Dodi Bukan
Pecundang
Dodi
memberesi tasnya kemudian menuju ke lapangan basket. Setelah itu, ia berlari
menyusul teman-temannyayang sedang mengikuti ekstra basket. Namun saat ia masuk
ke lapangan basket, ia terpeleset kerikil dan terjatuh. Teman-temannya tertawa,
namun Dodi tidak peduli. Ia bangkit dan berlari menuju teman- temannya. Dodi
memang ikut ekstra basket namun, sebelumnya ia juga ikut ekstra menari. Jadi,
ia sering terlambat. Dodi anak berkacamata tetapi sedikit cerewet itu,senang
bermain basket walaupun ia sebenarnya tidak sejago anak- anak sebayanya. Ia
sering melakukan kesalahan saat bermain basket.
”Hey Dodi, umpan kesini!”
pinta Anto. Dodi jadi grogi “Hmmmm” Gumam Dodi. Karena grogi jadi salah umpan
ke pemain tim lawannya.
“Hey Dodi,
kau itu sebenarnya pemain mana sih?” ejek Toni pemain tim lawan.
“Iya nih Dodi kalau enggak bisa main keluar
saja sana!” bentak Joni ketua timnya. Tetapi Dodi tidak menggubrisnya ia terus
berlari mengejar bola basket. Dan kini bola basket melesat menuju ke Dodi, Dodi
semakin gugup, lalu bolanya mengenai kepalanya. Kepalanyapun menjadi sakit
“Aduuuh” Rintih Dodi. Iapun terpaksa keluar
lapangan.
Dodi
berjalan menuju kursi di pinggir lapangan. Iapun mengambil seruling bambu dari
tasnya. Sambil menunggu teman-temannya, iapun memakin memainkan seruling
bambunya. Prok- prok-prok, Tiba - tiba
terdengar bunyi tepuk tangan dari samping.Ternyata itu Pak Arman pelatih ekstra
basket.
”Gimana sudah enggak sakit
kepalanya ?”Tanya Pak Arman .
”Udah agak baikan, Pak,”jawab
Dodi. ”Ngomong-ngomong bagus sekali permainan serulingmu tadi,” puji Pak Arman
takjub.
“Ah, biasa saja, Pak,”Ujar Dodi tersipu.
“Pak, kalau boleh tahu mengapa anak-anak yang
lain pintar bermain basket sedangkan saya tidak?,”tanya Dodi. Ditundukkannya
wajahnya. Kakinya bergerak memainkan kerikil dibawah sepatunya.
“Ha ha ha, setiap orang itu punya kelebihan
dan kekurangan, mungkin temanmu jago main basket, tetapi belum tentu temanmu
pintar bermain seruling seperti kamu
tadi,” jawab pak Arman. Ditepuknya bahu Dodi perlahan.
“Ouh, jadi setiap orang punya kelebihan dan
kekurangannya masing-masing ya, Pak?,” ujar Dodi.
“Ia Di, jadi kamu harus
tetap semangat, jangan pernah putus asa, jangan pernah kamu merasa berbeda
dengan mereka,” ucap pak Arman.
“Ia, terima kasih, Pak,” ucap Dodi.
“Anak- anak, waktu bermain basket sudah habis
sekarang berdo’a lalu pulang kerumah masing- masing.” Ucap pak Arman.
”Iya pak” jawab anak-anak
serentak. Merekapun berdo’a dan segera pulang kerumah masing-masing.
Keesokan harinya di
sekolah Dodi SMP Tunas Bangsa ada pengumuman bahwa akan diadakan lomba menari
tarian daerah. Dodi pun tersentak saat melihat pengumuman tersebut. Ia
diikutkan dalam lomba menari itu oleh guru tarinya. Namanya terpampang jelas di
papan pengumuman. Ada keraguan di hatinya. Akankah ia mengikuti perlombaan
tersebut? Akankah ia mampu melakukannya. Ia takut mengecewakan seluruh sekolah.
Tiba- tiba ia teringat pesan Pak Arman kemarin di lapangan basket. Ia tidak
boleh merasa malu bahkan harus bangga dengan apa yang ia bias. Kini Dodi yakin
ia pasti bias melakukan seperti apa yang diinginkan oleh guru tarinya.Dengan
mengikuti perlombaan tersebut berarti ia mempertaruhkan harga diri dan
kebanggaan sekolah.
Hari yang ditunggu Dodi pun
tiba. Ia sudah mempersiapkan tariannya
dari kemarin sehingga ia sudah sangat siap. Dan kini giliran Dodi untuk naik ke
atas panggung. Kebetulan Pak Arman dan anak-anak ekstra basket ikut menonton.
Dodi pun mulai menari. Ia membawakan tari Gatot Kaca Gandrung dengan sangat
lihai dan lancar. Dodi kelihatan gagah sekali dengan kostumnya. Kawan-kawannya
yang melihat sangat terkejut dan bengong. Benarkah itu Dodi? Mereka tidak
menyangka bahwa yang didepan mereka adalah teman mereka, Dodi yang sering
menjadi bahan ledekan mereka. Di lapangan basket Dodi memang bukan siapa-siapa.
Tetapi di panggung ini Dodilah bintangnya. Tepuk tangan bergemuruh mengakhiri
tarian Dodi. Semua terpana melihat
penampilan Dodi.
Akhirnya, pengumuman siapa
yang menjadi pemenang. Dan ternyata Dodi yang mendapat juara pertama.
Kawan-kawannya tercengang. Ternyata Dodi yang tidak bisa bermain basket dengan
lancar, ternyata sangat jago dalam menari. Mereka sadar bahwa setiap orang
mempunyai kelebihan dan kekurngan. Akhirnya mereka berteman baik dengan Dodi
dan juga ikut berlatih menari bersama Dodi.