Selasa, 23 September 2014

Legenda Daerah

Asal – Usul Dukuh Semangkon

            Dukuh Semangkon terletak di Desa Tempaling Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Dahulu kala di tempat ini hiduplah keluarga petani. Di musim kemarau mereka selalu menanam buah semangka. Lahan yang ada di dukuh ini sangat cocok ditanami semangka daripada tanaman yang lain karena tanah disini sebagian besar adalah tanah tadah hujan artinya, hanya ada airnya jika musim penghujan.
          Seperti biasanya musim kemarau tiba. Petani tersebut mengolah tanahnya untuk ditanami semangka. Semangka tumbuh subur. Beberapa bulan kemudian buahnya siap dipanen. Mereka menyiapkan pedati dan karung untuk memanen semangka. Esok di hari yang sudah ditentukan pagi – pagi sekali mereka sudah sampai di ladang semangka. Alangkah terkejutnya mereka, ladang semangka mereka telah rusak. Buah – buah bertebaran di mana – mana dalam keadaan yang menyedihkan. Gagallah mereka memanen semangka. Keuntungan yang sudah ada di depan mata lenyap seketika. Siapa gerangan yang tega berbuat ini di ladang mereka? Mereka hanya bisa bertanya dalam hati. Tidak ada bukti yang bisa menunjukkan pelakunya. Kalau memang mereka pencuri biasa, tentu akan diambil semua tak akan ada yang tersisa. Tapi ini banyak sekali buah semangka yang rusak dan ditinggalkan begitu saja. Sungguh aneh sekali.
Mereka tak putus asa musim berikutnya mereka kembali menanam semangka. Ketika sudah siap panen mereka menjaganya siang dan malam. Mereka ingin tahu siapa gerangan yang telah merusak buah semangka tahun lalu. Mereka tidak ingin kecolongan lagi. Mereka memperketat penjagaan.   Dengan ketekunan dan dan tak kenal lelah serta kejelian yang luar biasa mereka mengamati setiap hal yang dirasa mencurigakan. Perkembangan dan pertumbuhan tanaman semangka di amati dengan teliti. Dari buahnya yang dulu kecil hingga membesar selalu mereka pantau. Di suatu hari  saat semangka sudah tumbuh besar mereka menjumpai beberapa ekor kadal muncul dan merayap dari dalam buah  semangka. Ketika tahu ada yang memperhatikan kadal itu segera lari melompat di antara buah semangka yang lain. Lenyaplah kadal besar itu.
Esok harinya mereka menjumpai hal itu berulang dan ketika di kejar kadal-kadal itu lenyap dan menghilang lagi dengan cepat. Jumlahnya pun semakin banyak dari hari ke hari. Hal ini dimungkinkan karena semangka semakin tua dan mendekati masa panen. Dari kejadian itu dan semangka yang rusak ciri-cirinya sama seperti tahun lalu, petani akhirnya mengetahui bahwa selama ini yang memakan dan merusak buah semangka mereka hewan sejenis kadal. Orang desa menyebutnya blungkon. Jaman sekarang dikenal dengan nama bunglon. Yaitu hewan sejenis reptil yang bisa merubah warna kulitnya sesuai lingkungan yang ditempati (mimikri).
Segera mereka memutar otak untuk bisa menangkap bunglon-bunglon ini. Mereka segera memasang perangkap untuk menangkap bunglon – bunglon yang berjumlah ratusan bahkan ribuan itu, agar tidak mengganggu tanaman mereka lagi. Tidak mudah menangkap hewan jenis ini. Karena mereka mudah sekali menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apalagi di daerah mereka banyak sekali batang-batang bambu yang menjadi istana bagi hewan ini. Akhirnya dengan kerja keras dan pantang menyerah bunglon-bunglon ini dapat dibasmi. Mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Salah seorang tetua diantara mereka berkata “Besok kalau ada keramaian jaman jadilah tempat ini bernama Semangkon”. Berasal dari kata semangka dan Blungkon.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar