Asal
– Usul Dukuh Semangkon
Dukuh Semangkon terletak di
Desa Tempaling Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Dahulu kala di tempat ini
hiduplah keluarga petani. Di musim kemarau mereka selalu menanam buah semangka.
Lahan yang ada di dukuh ini sangat cocok ditanami semangka daripada tanaman
yang lain karena tanah disini sebagian besar adalah tanah tadah hujan artinya,
hanya ada airnya jika musim penghujan.
Seperti biasanya musim kemarau tiba.
Petani tersebut mengolah tanahnya untuk ditanami semangka. Semangka tumbuh
subur. Beberapa bulan kemudian buahnya siap dipanen. Mereka menyiapkan pedati
dan karung untuk memanen semangka. Esok di hari yang sudah ditentukan pagi –
pagi sekali mereka sudah sampai di ladang semangka. Alangkah terkejutnya
mereka, ladang semangka mereka telah rusak. Buah – buah bertebaran di mana –
mana dalam keadaan yang menyedihkan. Gagallah mereka memanen semangka. Keuntungan
yang sudah ada di depan mata lenyap seketika. Siapa gerangan yang tega berbuat
ini di ladang mereka? Mereka hanya bisa bertanya dalam hati. Tidak ada bukti
yang bisa menunjukkan pelakunya. Kalau memang mereka pencuri biasa, tentu akan
diambil semua tak akan ada yang tersisa. Tapi ini banyak sekali buah semangka
yang rusak dan ditinggalkan begitu saja. Sungguh aneh sekali.
Mereka
tak putus asa musim berikutnya mereka kembali menanam semangka. Ketika sudah
siap panen mereka menjaganya siang dan malam. Mereka ingin tahu siapa gerangan
yang telah merusak buah semangka tahun lalu. Mereka tidak ingin kecolongan
lagi. Mereka memperketat penjagaan. Dengan
ketekunan dan dan tak kenal lelah serta kejelian yang luar biasa mereka mengamati
setiap hal yang dirasa mencurigakan. Perkembangan dan pertumbuhan tanaman
semangka di amati dengan teliti. Dari buahnya yang dulu kecil hingga membesar
selalu mereka pantau. Di suatu hari saat
semangka sudah tumbuh besar mereka menjumpai beberapa ekor kadal muncul dan
merayap dari dalam buah semangka. Ketika
tahu ada yang memperhatikan kadal itu segera lari melompat di antara buah
semangka yang lain. Lenyaplah kadal besar itu.
Esok
harinya mereka menjumpai hal itu berulang dan ketika di kejar kadal-kadal itu
lenyap dan menghilang lagi dengan cepat. Jumlahnya pun semakin banyak dari hari
ke hari. Hal ini dimungkinkan karena semangka semakin tua dan mendekati masa panen.
Dari kejadian itu dan semangka yang rusak ciri-cirinya sama seperti tahun lalu,
petani akhirnya mengetahui bahwa selama ini yang memakan dan merusak buah
semangka mereka hewan sejenis kadal. Orang desa menyebutnya blungkon. Jaman sekarang
dikenal dengan nama bunglon. Yaitu hewan sejenis reptil yang bisa merubah warna
kulitnya sesuai lingkungan yang ditempati (mimikri).
Segera
mereka memutar otak untuk bisa menangkap bunglon-bunglon ini. Mereka segera memasang
perangkap untuk menangkap bunglon – bunglon yang berjumlah ratusan bahkan
ribuan itu, agar tidak mengganggu tanaman mereka lagi. Tidak mudah menangkap
hewan jenis ini. Karena mereka mudah sekali menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Apalagi di daerah mereka banyak sekali batang-batang bambu yang
menjadi istana bagi hewan ini. Akhirnya dengan kerja keras dan pantang menyerah
bunglon-bunglon ini dapat dibasmi. Mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan.
Salah
seorang tetua diantara mereka berkata “Besok kalau ada keramaian jaman jadilah
tempat ini bernama Semangkon”. Berasal dari kata semangka dan Blungkon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar