Selasa, 23 September 2014

Puisi Keindahan Alam (Awan)

Awan
Oleh : Mohammad Amin Ramadhan
Awan . . . . . . . . . . . . . .
Ketika ku melihat langit
Berarak perlahan
Pelan-pelan

Kau melintasi batas cakrawala
Aku memandangnya
Gumpalan awan putih
Bersih . . . . . . . . . . . . . .

Beraneka rupa
Seperti bola, domba,dan kuda
Aku sangat menyukainya
Ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna

Kelak jika aku dewasa
Aku ingin terbang diatasnya
Berlarian bersamanya

Karena kan kugapai cita-cita

Puisi Kelas Baruku

Kelas Baru

Disana aku bersua dengan teman-temanku
Menuntut ilmu tiada jemu
Untuk meraih cita-citaku
Dan mimpiku……………

Hari- hariku tak terasa berlalu
Tawa dan canda beriringan selalu
Kujalani bersama kawan-kawanku
Yang setia selalu

Kelasku indah
Kelasku nyaman
Kelasku tempat menaruh harapan
Kelasku tempat mencari ilmu
Kelasku tempat baruku
Terimakasihku ucapkan padamu
Bapak ibu guruku

Puisi Olahraga

Main Bola

Buah karya : Mohammad Amin Ramadhan
GOOl . . . . . . . . . . . . . . . .
Bola kutendang
Meluncur deras masuk ke gawang
Lawan . . . . . . . . . . . . . . .

Penonton bersorak
Aku dan temen-teman senang
Bukan kepalang
Lawanku tercengang

GOOL . . . . . . . . . . . . . . . .
Lawan terkejut
Sang pelatih merengut
Karena timnya bertekuk lutut

Prit-prit-prit . . . . . . . . . . . .
Wasit meniup peluit
Tanda pertandingan usai
Kami pulang membawa kemenangan


Legenda Daerah

Asal – Usul Dukuh Semangkon

            Dukuh Semangkon terletak di Desa Tempaling Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang. Dahulu kala di tempat ini hiduplah keluarga petani. Di musim kemarau mereka selalu menanam buah semangka. Lahan yang ada di dukuh ini sangat cocok ditanami semangka daripada tanaman yang lain karena tanah disini sebagian besar adalah tanah tadah hujan artinya, hanya ada airnya jika musim penghujan.
          Seperti biasanya musim kemarau tiba. Petani tersebut mengolah tanahnya untuk ditanami semangka. Semangka tumbuh subur. Beberapa bulan kemudian buahnya siap dipanen. Mereka menyiapkan pedati dan karung untuk memanen semangka. Esok di hari yang sudah ditentukan pagi – pagi sekali mereka sudah sampai di ladang semangka. Alangkah terkejutnya mereka, ladang semangka mereka telah rusak. Buah – buah bertebaran di mana – mana dalam keadaan yang menyedihkan. Gagallah mereka memanen semangka. Keuntungan yang sudah ada di depan mata lenyap seketika. Siapa gerangan yang tega berbuat ini di ladang mereka? Mereka hanya bisa bertanya dalam hati. Tidak ada bukti yang bisa menunjukkan pelakunya. Kalau memang mereka pencuri biasa, tentu akan diambil semua tak akan ada yang tersisa. Tapi ini banyak sekali buah semangka yang rusak dan ditinggalkan begitu saja. Sungguh aneh sekali.
Mereka tak putus asa musim berikutnya mereka kembali menanam semangka. Ketika sudah siap panen mereka menjaganya siang dan malam. Mereka ingin tahu siapa gerangan yang telah merusak buah semangka tahun lalu. Mereka tidak ingin kecolongan lagi. Mereka memperketat penjagaan.   Dengan ketekunan dan dan tak kenal lelah serta kejelian yang luar biasa mereka mengamati setiap hal yang dirasa mencurigakan. Perkembangan dan pertumbuhan tanaman semangka di amati dengan teliti. Dari buahnya yang dulu kecil hingga membesar selalu mereka pantau. Di suatu hari  saat semangka sudah tumbuh besar mereka menjumpai beberapa ekor kadal muncul dan merayap dari dalam buah  semangka. Ketika tahu ada yang memperhatikan kadal itu segera lari melompat di antara buah semangka yang lain. Lenyaplah kadal besar itu.
Esok harinya mereka menjumpai hal itu berulang dan ketika di kejar kadal-kadal itu lenyap dan menghilang lagi dengan cepat. Jumlahnya pun semakin banyak dari hari ke hari. Hal ini dimungkinkan karena semangka semakin tua dan mendekati masa panen. Dari kejadian itu dan semangka yang rusak ciri-cirinya sama seperti tahun lalu, petani akhirnya mengetahui bahwa selama ini yang memakan dan merusak buah semangka mereka hewan sejenis kadal. Orang desa menyebutnya blungkon. Jaman sekarang dikenal dengan nama bunglon. Yaitu hewan sejenis reptil yang bisa merubah warna kulitnya sesuai lingkungan yang ditempati (mimikri).
Segera mereka memutar otak untuk bisa menangkap bunglon-bunglon ini. Mereka segera memasang perangkap untuk menangkap bunglon – bunglon yang berjumlah ratusan bahkan ribuan itu, agar tidak mengganggu tanaman mereka lagi. Tidak mudah menangkap hewan jenis ini. Karena mereka mudah sekali menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apalagi di daerah mereka banyak sekali batang-batang bambu yang menjadi istana bagi hewan ini. Akhirnya dengan kerja keras dan pantang menyerah bunglon-bunglon ini dapat dibasmi. Mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Salah seorang tetua diantara mereka berkata “Besok kalau ada keramaian jaman jadilah tempat ini bernama Semangkon”. Berasal dari kata semangka dan Blungkon.  

CERPEN SEMANGAT HIDUP

Dodi Bukan Pecundang

                Dodi memberesi tasnya kemudian menuju ke lapangan basket. Setelah itu, ia berlari menyusul teman-temannyayang sedang mengikuti ekstra basket. Namun saat ia masuk ke lapangan basket, ia terpeleset kerikil dan terjatuh. Teman-temannya tertawa, namun Dodi tidak peduli. Ia bangkit dan berlari menuju teman- temannya.                                                                           Dodi memang ikut ekstra basket namun, sebelumnya ia juga ikut ekstra menari. Jadi, ia sering terlambat. Dodi anak berkacamata tetapi sedikit cerewet itu,senang bermain basket walaupun ia sebenarnya tidak sejago anak- anak sebayanya. Ia sering melakukan kesalahan saat bermain basket.
”Hey Dodi, umpan kesini!” pinta Anto. Dodi jadi grogi “Hmmmm” Gumam Dodi. Karena grogi jadi salah umpan ke pemain tim lawannya.
 “Hey  Dodi, kau itu sebenarnya pemain mana sih?” ejek Toni pemain tim lawan.
 “Iya nih Dodi kalau enggak bisa main keluar saja sana!” bentak Joni ketua timnya. Tetapi Dodi tidak menggubrisnya ia terus berlari mengejar bola basket. Dan kini bola basket melesat menuju ke Dodi, Dodi semakin gugup, lalu bolanya mengenai kepalanya. Kepalanyapun menjadi sakit
 “Aduuuh” Rintih Dodi. Iapun terpaksa keluar lapangan.
            Dodi berjalan menuju kursi di pinggir lapangan. Iapun mengambil seruling bambu dari tasnya. Sambil menunggu teman-temannya, iapun memakin memainkan seruling bambunya. Prok- prok-prok, Tiba  - tiba terdengar bunyi tepuk tangan dari samping.Ternyata itu Pak Arman pelatih ekstra basket.
”Gimana sudah enggak sakit kepalanya ?”Tanya Pak Arman .
”Udah agak baikan, Pak,”jawab Dodi. ”Ngomong-ngomong bagus sekali permainan serulingmu tadi,” puji Pak Arman takjub.
 “Ah, biasa saja, Pak,”Ujar Dodi tersipu.
 “Pak, kalau boleh tahu mengapa anak-anak yang lain pintar bermain basket sedangkan saya tidak?,”tanya Dodi. Ditundukkannya wajahnya. Kakinya bergerak memainkan kerikil dibawah sepatunya.
 “Ha ha ha, setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan, mungkin temanmu jago main basket, tetapi belum tentu temanmu pintar bermain seruling seperti  kamu tadi,” jawab pak Arman. Ditepuknya bahu Dodi perlahan.
 “Ouh, jadi setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya, Pak?,” ujar Dodi.
“Ia Di, jadi kamu harus tetap semangat, jangan pernah putus asa, jangan pernah kamu merasa berbeda dengan mereka,” ucap pak Arman.
 “Ia, terima kasih, Pak,” ucap Dodi.
 “Anak- anak, waktu bermain basket sudah habis sekarang berdo’a lalu pulang kerumah masing- masing.” Ucap pak Arman.
”Iya pak” jawab anak-anak serentak. Merekapun berdo’a dan segera pulang kerumah masing-masing.
Keesokan harinya di sekolah Dodi SMP Tunas Bangsa ada pengumuman bahwa akan diadakan lomba menari tarian daerah. Dodi pun tersentak saat melihat pengumuman tersebut. Ia diikutkan dalam lomba menari itu oleh guru tarinya. Namanya terpampang jelas di papan pengumuman. Ada keraguan di hatinya. Akankah ia mengikuti perlombaan tersebut? Akankah ia mampu melakukannya. Ia takut mengecewakan seluruh sekolah. Tiba- tiba ia teringat pesan Pak Arman kemarin di lapangan basket. Ia tidak boleh merasa malu bahkan harus bangga dengan apa yang ia bias. Kini Dodi yakin ia pasti bias melakukan seperti apa yang diinginkan oleh guru tarinya.Dengan mengikuti perlombaan tersebut berarti ia mempertaruhkan harga diri dan kebanggaan sekolah.                                                             
Hari yang ditunggu Dodi pun tiba. Ia sudah mempersiapkan  tariannya dari kemarin sehingga ia sudah sangat siap. Dan kini giliran Dodi untuk naik ke atas panggung. Kebetulan Pak Arman dan anak-anak ekstra basket ikut menonton. Dodi pun mulai menari. Ia membawakan tari Gatot Kaca Gandrung dengan sangat lihai dan lancar. Dodi kelihatan gagah sekali dengan kostumnya. Kawan-kawannya yang melihat sangat terkejut dan bengong. Benarkah itu Dodi? Mereka tidak menyangka bahwa yang didepan mereka adalah teman mereka, Dodi yang sering menjadi bahan ledekan mereka. Di lapangan basket Dodi memang bukan siapa-siapa. Tetapi di panggung ini Dodilah bintangnya. Tepuk tangan bergemuruh mengakhiri tarian Dodi.  Semua terpana melihat penampilan Dodi.

Akhirnya, pengumuman siapa yang menjadi pemenang. Dan ternyata Dodi yang mendapat juara pertama. Kawan-kawannya tercengang. Ternyata Dodi yang tidak bisa bermain basket dengan lancar, ternyata sangat jago dalam menari. Mereka sadar bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurngan. Akhirnya mereka berteman baik dengan Dodi dan juga ikut berlatih menari bersama Dodi.

Puisi R.A Kartini

Mengenangmu
:  R.A Kartini

Dibawah pohon waru berbunga kuning
                                           Diatas permadani rumput hijau
Dihalaman sebuah sekolah
Engkau tercekat untuk pertama kalinya
Mendengar Tanya seorang teman berkulit putih
“Kamu kelak ingin jadi apa?”
”tidak tahu” jawabmu
Harus jadi apa gadis gadis?
Ya,  jadi Raden Ayu tentunya,” bisik kakakmu
Raden ayu?
Tanya menggulung berontak bathin
Bagimu ke-raden ayu-an bukankah adat berabad yang di junjung tinggi?
Sedusedan garang tak henti hentinya
 tertancap dalam dalam
Tatkala ayahanda tak berkenan melepasmu
Menuntut ilmu setinggi bintang
Hanya buku-buku yang menjadi pelepas lapar dahagamu
Untuk melepaskan bangsamu dari rantai baja belenggu abadi
Bagiku engkau adalah melati dihalaman rumahku
Berkali aku babat untuk aku ganti
Tetap tumbuh juga
Ikhlas memberikan bunga
Tak engkau sembunyikan wanginya

Meski sedetik jua

Sinopsis Novel Sang Pemimpi

SANG PEMIMPI
OLEH ANDREA HIRATA


                Sang pemimpi menceritakan tentang 2 tokoh utamanya yaitu aku (Ikal) dan Arai. Kisahnya berawal dari kenakalan-kenakalan mereka pada waktu SMA. Saat itu ikal danArai bersekolah di SMA Bukan Main. Di sekolah tersebut terdapat satu guru yang galak dan killer MUSTAR M DJAIDIN, B.A. Suatu hari mereka terlambat masuk sekolah. Apel sudah dimulai. Siswa yang terlambat mengejek pak Mustar termasuk Arai yang memang suka usil.Hal ini membuat pak Mustar mengamuk. Dibantu penjaga sekolah mengejar Ikal dan kawan- kawan.Kejar mengejar terjadi . Mereka melarikan diri sampai ke tempat penyimpanan ikan. Mereka sampai masuk kedalam peti ikan untuk menyelamatkan diri . Akhirnya mereka sampai di pasar ikan tanpa di ketahui pak Mustar. Mereka membuat geger pasar ikan karena ketika peti dibuka, keluarlah mereka dari dalam peti dengan bau ikan yang begitu menusuk. Karena kaget maka Capo sang pemilik peti es sampai pingsan dan berteriak “Ikan Duyung!!!”